Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Komunikasi Marketing dari Orkestra

Ketika Saya membaca beberapa buku yang membahas tentang komunikasi marketing, saya sangat tertarik pada salah satu pembahasan yang menyinggung teori harmonisasi orkestra terhadap marketing, sampai saat ini saya masih sangat penasaran dan tertarik untuk membahasnya, kata yang menarik menurut saya adalah kata “orkestra”, bagaimana mungkin orkestra bisa dihubungkan dengan teori komunikasi marketing?.     

Kalau anda pernah menyaksikan pertunjukan orkestra, tentu anda tau pertunjukan orkestra yang sangat menarik yang selalalu ditayangkan di salah satu stasion televisi, sebut saja acara Harmoni yang ditayangkan di SCTV, acara ini selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmat music tanah air karna menghasilkan kualitas penampilan music yang sangat fantastis sehingga ketika acara ini tidak di tayangkan lagi banyak sekali masyarakat (penonton) yang meminta acara harmoni diadakan kembali yang akhirnya acara ini tetap di tayangkan oleh SCTV.     

Dengan bekal semangat mengetahui lebih jauh tentang orkestra ini, akhirnya saya mencoba mempelajari lewat internet tentang apa sih unsur-unsur yang ada dalam orkestra sehingga layak kita jadikan referensi untuk membangun komunikasi marketing dalam organisasi/perusahaan kita. Spirit Marketing dari waktu ke waktu.     

Kalau kita berbicara marketing yang terlintas dalam benak kita pasti beragam, mungkin ada yang beranggapan marketing itu adalah penjualan, marketing itu mengenalkan product, marketing itu sales, marketing itu menyebar brosur,poster atau tools lainnya, marketing itu menawarkan product atau jasa, marketing itu iklan atau bahkan marketing itu ada;alh iklan lewat internet. Tapi apapun yang anda pikirkan tentang marketing semua itu adalah bagian-bagian dalam marketing, anda benar! Semua itu adalah marketing.
     
Dari waktu ke waktu teori tentang marketing mengalami perkembangan yang sangat beragam, diambil dari sejarah munculnya konsep marketing dalam buku “Marketing Communication” yang ditulis oleh dr. Martani Huseini (2008) yang menerangkan bahwa di era 1950-an bermunculan konsep marketing mix, product life cycle, brand image, market segmentation, marketing consept dst.     

Konsep pemasaran yang mulai bersentuhan dengan media interaktif dan internet muncul di era 1980-an, yang pada waktu itu yang gencar adalah konsep marketing warfare, internal marketing, nichel marketing, global marketing, local marketing hingga direct marketing kemudian konsep ini semakin berkembang di era 1990-an diataranya online/cyber marketing.     

Hingga saat ini konsep marketing sudah sangat berkembang lebih jauh lagi sampai menyentuh pendekatan psikologis yang mengikat emosi pelanggan, social masyarakat bahkan sudah sampai menyentuh spiritual pelanggan, dalam istilah Hermawan Kartajaya marketing 3.1.     

Semakin beragamnya sifat dan karakteristik pelanggan semakin pula berkembang konsep marketing hingga saat ini, begitu pula konsep dan praktek marketing yang pernah saya lakukan di Sang Bintang school (SBS). Dari waktu ke waktu mengalami perubahan dan perkembangan konsep yang diterapkan, sebagaimana telah diketahui oleh sebagian tim SBS model marketing yang terapkan dimana kita kenal dengan “total marketing” yang mengerahkan segenap potensi marketing yang dimiliki, kemudian kita kenal juga “happy marketing” yang merubah mindset tim bahwa bermarketing itu bisa dimana saja, kapan saja dan melakukannya dengan happy, ada juga “aweek marketing” yang memusatkan aktifitas marketing di satu titik selama 1 minggu, kemudian “genius marketing”, dst.     

Beragamnya model marketing yang di munculkan itu semua karna semakin beramnya calon pelanggan SBS yang semakin hari semakin beragam dan SBS harus mengakomudir kebutuhan calon pelanggan tersebut, namun apapun itu, harusnya menjadi spirit bagi kita selaku tim di SBS untuk selalu melakukan inovasi unntuk membangun kesuksesan marketing, spirit marketing dan pembelajaran harus tertanam dalam diri tim untuk mewujudkan kesejahteraan cita-cita besar organisasi/perusahaan.

Belajar dari Orkestra     
Sejak saya bergabung di SBS dan melakukan bergaram aktifitas marketing, ada hal yang menurut saya sangat penting untuk dikuasai oleh tim yaitu komunikasi marketing (marketing communication), komunikasi marketing ini akan berjalan dengan apik jika ada aspek strategis didalamnya strategi komunikasi marketing (Strategic Communication Marketing).     

Beberapa bulan yang lalu saya membeli buku yang judulnya “Marketing Communication Orkestra” di Islamic Book Fair Malang, dalam buku itu dipaparkan konsep Strategic Marketing Communication yaitu segitiga emas Strategic Marketing Communication.     

Untuk memudahkan kolaborasi tiga elemen dari Strategic Marketing Communication yaitu strategi, pemasaran dan komunikasi, maka dari ke tiga elemen tersebut perlu memiliki sense of strategy, sense of marketing, sense of communication sehingga kemudian ini menjadi spirit yang terus bergerak dalam tim yang akhirnya mencapai tujuan marketing layaknya orkestra yang menghasilkan irama yang begitu merdu karna harmonisasi antara elemen didalamnya.     

Komunikasi marketing tidak hanya butuh skill individu dalam menjalankan aktifitas marketing terutama iklan, public relation, event organizer, costumer service, direct marketing, promosi penjualan bahkan internet marketing. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah keselarasan atau harmonisasi, seperti orkestra music yang menghasilkan harmoni dan keindahan irama dalam music.     

Kemarin saya mencoba untuk mempelajari unsur-unsur penting dari orkestra melalui internet dan buku Marketing Communication Orkestra, ada 7 hal menarik menurut saya yang cocok untuk diadopsi dari filosofi orkestra yaitu satu dirjen, tematik, harmonisasi, berirama, spesifik, keterpaduan dan yang terakhir apresiasi. Ok saya coba paparkan satu per satu.

Satu Dirjen     
Dalam orkestra untuk menghasilkan tujuan bersama yaitu keindahan irama tidak ada pemimpin ganda, orkestra dipimpin oleh seorang dirjen. Nah, demikian juga seharusnya dalam sebuah organisasi/perusahaan, satu komando untuk mencapai tujuan bersama dan harus diikuti dengan ke Tsiqohan jundi (kepatuhan tim dibawahnya).

Harmonisasi     
Harminisasi dalam orkestra itu sangat penting untuk kesatuan dan keselarasan nada dan irama. Dalam komunikasi marketing juga seharusnya tercipta keselarasan dan kesatuan visi pencapaian antara tim, baik itu manajer, manajemen, tim pengajar, marketer dan juga tim pusat, kesatuan dan keselarasan itu bisa dalah hal tujuan, strategi, kebijakan, pemahaman product, dan juga media yang digunakan. Jika itu terjadi maka insyaallah akan terbentuk komunikasi marketing yang elegan.

Tematik     
Dalam orkestra pertunjukan yang ditampilkan bisa berupa music klasik atau music modern dan pada saat tertentu bisa menampilkan music etnik. Hal tersebut seharusnya sama juga diterapkan dalam komunikasi marketing yang hubungannya dengan inovasi product, sebuah organisasi/perusahaan harus bisa menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam, untuk mencapai pesan yang ingin disampaikan mengenai product maka cara dan komunikasi haruslah berbeda sesuai kebutuhan dan sasaran pelanggan.

Berirama     
Kalau kita perhatikan dalam orkestra tempo terkadang melambat dan tiba-tiba cepat lalu kemudian melambat atau lembut. Nah, begitupun seharusnya dalam organisasi/perusahaan dalam komunikasi marketing, mengatur irama kapan saatnya membangun citra, memanjakan pelanggan dan bahkan kapan harus berpacu untuk mendongkrak penjualan atau omset atau bahkan semua dilakukan beriringan.

Spesifik     
Tahukan anda kalau penggemar orkestra itu hanya dari kalangan tertentu saja?, tidak semua kalangan suka dengan music orkestra. Lalu bagaimana dengan program atau product sebuah organisasi/perusahaan? Tentu saja sama, oleh karena itu segmen yang dibidik harus sesuai dengan product kita dan tepat sasaran, sehingga hasil yang ingin dicapai akan maksimal, misalnya program SBS untuk dewasa “6 Minggu Bisa!” jangan sampai ditawarkan di sekolah-sekolah SD atau SMP tidak aka nada yang mendaftar, begitu juga segmen area atau wilayah sangat penting, misalnya area kampus, perumahan dst.

Keterpaduan     
Coba perhatikan dalam orkestra, Sikap tidak menonjolkan diri dan rendah hati sangat terasa diantara para pemain, coba kita bayangkan jika para pemain dalam orkestra saling menonjolkan diri yang main piano bermain sesuka hati, maka apa yang akan terjadi??.     

Begitupun dengan organisasi/perusahaan, tim yang terlibat didalamnya harus menjalankan fungsi kerjaannya sesuai dengan fungsinya masing-masing, jangan sampai terjadi saling merendahkan dan mengambil alih fungsi tim yang lain kecuali ada hal-hal yang sudah dikomunikasikan sebelumnya. Kalau keterpaduan ini terjaga insyaallah deh…

Apresiasi     
Coba deh kita perhatikan, sang dirjen biasanya mengucapkan ungkapan terima kasih kepada penonton atas partisipasi dan tepuk tangan sebagai respon aktif untuk menghargai penonton. Itu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki program khusus untuk pelanggan customer rewards atau biasanya bagi-bagi hadiah sebagai bentuk penghargaan terhadap pelanggan yang loyal.     

Diakhir tulisan saya ini, saya ingin memberikan penekanan bahwa untuk mencapai tujuan bersama organisasi/perusahaan mengkomunikasikan tujuan ataupun program sehingga tercipta harmoni dan keindahan irama, visi dan omset, spirit-lah yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing untuk selaluterus bergerak melakukan perubahan. Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh : Mohamad Iqbal, S,Si
Twitter : @ibelajegile
Email : m.iqbal_sbs@yahoo.com
Web : www.IQBALajegiLe.blogspot.com

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

4 assumptions of Stephen R. Covey on mind, body, heart, and spirit

I have also found that by making four simple assumptions in our lives we can immediately begin leading a more balanced, integrated, powerful life.

They are simple–one for each part of our nature–but I promise you that if you do them consistently, you will find a new wellspring of strength and integrity to draw on when you need it most.

1) For the body–assume you've had a heart attack; now live accordingly. 

2) For the mind–assume the half-life of your profession is two years; now prepare accordingly.

3) For the heart -assume everything you say about another, they can overhear; now speak accordingly.

4) For the spirit–assume you have a one-on-one visit with your Creator every quarter; now live accordingly.

Stephen Covey (Source: The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness)
Watch here : http://youtu.be/_Yf3Sh-zwAQ

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Life Skills, have you had it?


kriteria pekerja dan pengusaha yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang memiliki integritas dan antusias. tanpa integritas, orang akan menjadi kuda liar yang tak bisa dikenalikan dan berpotensi merusak dan menipu. namun orang yang memiliki integritas tanpa antusias, maka tidak akan berkembang dan memperbesar kemanfaatan dirinya untuk orang lebih banyak. Jika masalah potensi cerdas, itu sudah dimiliki oleh manusia pada umumnya. 
by Ridho Hudayana(inspired by Dahlan Iskan)

Skillful and Smart Are not Enough
Hari ini orang yang hanya mengandalakan skill dan kepintaran akan merugi, karena mereka akan segera tergantikan dengan mesin-mesin yang lebih pintar dan lebih skilful dari mereka. Lihatlah perubahan disekitar kita yang begitu cepat dan dahsyat.Hampir semua kebutuhan kita bisa digantikan dengan tenaga mesin yang berteknologi tinggi. Mampu melayani hampir semua keutuhan manusia.

Sehingga banyak film box office yang bertemakan masa depan yang menampilkan kecanggihan robot yang melayani manusia.Sehingga diprediksikan masa depan manusia hanya sebagai operator saja, bahkan sekedar menjadi penikmat saja.

Maka manusia yang hanya mengandalkan skill dan kepintaran saja dalam bidangnya menjadi useless. Dan seperti yang kita lihat hari ini, manusia menjadi tidak perlu skillful dan terlalu pintar dalam bidangnya untuk menjadi sukses, cukup mereka memiliki  sedikit engetahuan untuk mengoperasikan tknologi dan life skill yang baik, maka mereka pun akan menjadi sukses.

Life Skill is Powerful
Dalam suatu wawancara Hermawan Kartajaya sebagai CEO MARKPLUS Inc. kepada seorang Dahlan Iskan sebagai menteri BUMN. Ada suatu yang mengesankan di akhir wawancara antara mereka berdua, yang saya unduh dari youtube sekitar 2 minggu yang lalu.Diakhir wawancara, pak Hermawan mengajukan pertanyaan ke pak dahlan, yang intinya menanyakan, pegawai BUMN yang ideal untuk menjadikan perusahaan dibawah BUMN menjadi perusahaan yang bersaing dalam marketingnya dengan perusahaan-perusahaan swasta/asing itu seperti apa?

Dengan cukup lugas pak dahlan menjawab yang intinya pegawai yang cocok untuk bekerja di BUMN itu adalah pegawai yang memiliki soft skill/life skill yaitu, Integritas dan antusias, karena kalau berdasarkan sekedar skill dan kepintaran dalam bidangnya, itu semua dimiliki oleh orang yang bergabung diperusahaan rata-rata, baik skill dan kepintaran itu bisa dilatih dan dikembangkan. Karena kalau pegawai BUMN tidak memiliki life skill, integritas dan antusias, maka BUMN dimana ia bekerja menjadi tidak akan berkembang dan mungkin akan bangkrut.

Namun jika pegawai BUMN hanya memiliki integritas saja, maka perusahaan tidak akan berkembang, dan jika pegawai itu hanya memiliki antusias saja maka ia akan dicurigai dikarenakan akan membuat kerugian dan penipuan terhadap perusahaan.

Maka untuk BUMN yang bersaing maka dibutuhkan pegawai yang memiliki life skill integritas dan antusias. Karena mereka bisa dipercaya dan lebih progressif dalam pengembangan perusahaan. Mereka yang diharapkan menjadikan BUMN menjadi bersaing di dalam dan diluar negeri.

Without Life Skill (is the Reason of) Re-Sign
 Suatu ketika ada penelitian disebuah peruahaan jasa asuransi yang memperkerjakan agen asuransi, kira-kira  100 agen yang bekerja ditahun pertama. Dan diakhir tahun pertama lebih dari  50% dari agen itu mengundurkan diri. Dan ini kerap kali terjadi diperusahaan ini.

Perusahaan tidak mau mengalami kerugian karena pengeluaran untuk biaya training agen asuransi baru membengkak. Maka perusahaan asuransi tersebut mengadakan peneitian terhadap agen asuransi yang masih bekerja dan yang mengundurkan diri.

Maka dari data yang diperoleh menunjukkan, mereka yang mengundurkan diri dikarenakan tidak tahan terhadap penolakkan calon konsumen asuransi, padahal mereka adalah orang yang memiliki latarbelakang akademis yang sanat memenuhi syarat dan emahami betul duna marketing. Namun rupanya mereka tidak antuias karena tidak tahan dengan penolakkan dari calon konsumen.

Lain halnya yang masih bertahan di perusahaan asuransi tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki latar belakang akademis yang pas-pasan dan pemahaman dunia marketing yang juga masih sangat dasar. Namun mereka tidak pernah mengeluh atas penolakkan dari calon konsumen asuransi. Karena bagi mereka penolakkan adalah evaluasi untuk lebih baik lagi dalam menawarkan jasa asuransi. Dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan konsumen dan mencapai target.

So.. How to Build the Life Skill?
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar dari tulisan ini adalah bagaimana membangun life skill ini? Jawabannya adalah dengan memperbanyak pengalaman gagal dan mencoba. Itu berarti jika anda ingin memunculkan dan belajar mengenai life skill ini maka anda memerlukan banyak latihan menghdapi penolakkan dan mau belajar.

Langkah pertama adalah anda harus bergabung dalam komunitas atau lembaga yang anda bisa mengerjakan proyek-proyek dari entitas/komunitas dimana anda bergabung, tentunya yang anda sukai. Langkah kedua, ketiga, dan selanjutnya adalah jangan perna menyerah dalam setiap proyek-proyek yang anda kerjakan. Kuncinya adalah Integritas dan Antusias!

By Ridho Hudayana
Kunjungi blog pribadi penulis di http://ridhopsi.blogspot.com/





0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

What is best practice?


A best practice is a technique or methodology that, through experience and research, has proven to reliably lead to a desired result. A commitment to using the best practices in any field is a commitment to using all the knowledge and technology at one's disposal to ensure success. The term is used frequently in the fields of health care, government administration, the education system, project management, hardware and software product development, and elsewhere.

In software development, a best practice is a well-defined method that contributes to a successful step in product development. Throughout the software industry, several best practices are widely followed. Some of the more commonly used are: an iterative development process, requirement management, quality control, and change control.

An iterative (meaning repetitive) development process, which progresses in incremental stages, helps to maintain a focus on manageable tasks and ensures that earlier stages are successful before the later stages are attempted. Requirement management addresses the problem of creeping requirements, which is a situation in which the client requests additional changes to the product that are beyond the scope of what was originally planned. To guard against this common phenomenon, requirement management employs strategies such as documentation of requirements, sign-offs, and methodologies such as the use case.

Quality control is a strategy that defines objective measures for assessing quality throughout the development process in terms of the product's functionality, reliability, and performance. Change control is a strategy that seeks to closely monitor changes throughout the iterative process to ensure that records are intact for changes that have been made and that unacceptable changes are not undertaken.

A best practice tends to spread throughout a field or industry after a success has been demonstrated. However, it is often noted that demonstrated best practices can be slow to spread, even within an organization. According to the American Productivity & Quality Center, the three main barriers to adoption of a best practice are a lack of knowledge about current best practices, a lack of motivation to make changes involved in their adoption, and a lack of knowledge and skills required to do so.

Posted by: Margaret Rouse
Source : http://searchsoftwarequality.techtarget.com/

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Filosofi Bisnis Jepang (2)

Melihat efek positif dari pelaksanaan kaizen, tentu banyak perusahaan yang ingin melakukan hal yang sama, tak terkecuali Sang Bintang School (SBS), lembaga tempat saya bekerja sekarang. Kami begitu terobsesi tuk menerapkan konsep-konsep manajemen modern, salah satunya Kaizen guna terus menghebatkan perusahaan.

Secara bertahap konsep Kaizen diterapkan melalui CoM (Colourful Management®). CM adalah konsep unik dalam mengevaluasi dan meningkatkan kinerja tim di perusahaan kami. Nah, selain prinsip Kaizen ada prinsip lain yang juga tak kalah penting dalam filosofi bisnis di jepang yaitu Hanseii.

Sebelum Kaizen, Hansei dulu 
Ternyata ada prinsip penting yang harus dilakukan sebelum kita ber "Kaizen" ria. Prinsip yang menjadi dasar pelaksanaan Kaizen, mustahil Kaizen ada tanpanya. Karena prinsip ini pulalah, perusahaan Toyota menjadi begitu sedikit membicarakan tentang kesuksesan dan keberhasilan, mereka memegang prinsip Hansei. Mereka merayakan kesuksesan dengan kerendahan hati.

Apa sih Hansei? Pengen tahu :)? Hansei adalah refleksi diri tanpa kompromi dan bersikap jujur terhadap kelemahan. Perusahaan secara keseluruhan harus melakukan pengakuan atas kesalahan, refleksi diri, kemudian berjanji memperbaiki kesalahan dan menjadikannya lebih sempurna. Tidak hanya itu, perusahaan harus terus mengenali kelemahannya yang ada dan mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan sesegera mungkin. Ini menjadi akar dari kaizen.

Hansei = Taubatan Nasuha
Kalo saya boleh meminjam istilah dalam Agama Islam, konsep Hansei mirip dengan Taubatan Nasuha atau taubat sebenarnya. Kenapa demikian? Sebagai contoh : Apa yang anda rasakan pertama kali ketika melakukan kesalahan? Pastinya kita merasakan sedih kemudian anda merenungi diri lalu berjanji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi, dan bahkan segera melakukan sebanyak-banyaknya amal kebaikan. Seperti itulah juga Hansei. Para pekerja di Jepang menjadi begitu sensitif dengan kesalahan-kesalahan hingga yang terkecil. Kesediaan untuk mengevaluasi diri menjadi karakter sebagian besar para pekerja di jepang, khususnya di perusahaan Toyota. Ketika ada kesalahan mereka segera mengakui itu, mencari apa penyebabnya dan segera merencanakan solusi-solusi perbaikan.

Hansei tidak hanya sekedar menjadi pola pikir tetapi dipraktekkan setiap hari sehingga menjadi sikap dan budaya kerja.Jadi jangan heran melihat pekerja jepang, akan menunduk meminta maaf berkali-kali jika melakukan kesalahan. Jika demikian, berarti hampir tiap hari pekerja-pekerja di jepang melakukan Taubatan Nasuha atas bisnis mereka, berjamaah pula!! Duahsyattt!! Maka wajar sajalah untuk ukuran kesuksesan duniawi, mereka sudah benar-benar meraihnya.

Bayangkan ketika wirausahawan muslim melakukan hal yang sama, efeknya dunia akhirat :). Ketika perusahaan sudah mampu membangun pola pikir dan sikap ini diseluruh lapisannya, maka perusahaan akan segera bertranformasi menjadi organisasi pembelajar, dimana Hansei dan kaizen saling menumbuhkan. Perusahaan akan terus belajar tuk berperilaku, belajar mengakui kesalahan, belajar memperbaikinya, berjanji tuk membuat rencana peningkatan dan meraih prestasi yang lebih hebat, makin hebat dan terus hebat! Selamat mempraktekkan!

Yoi ichi nichi o!


By Fahrurrazi
Twitter : @ajicelestia

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Filosofi Bisnis Jepang (1)

Akhir-akhir ini saya lagi demam Jepang. Saya pingin banget pergi kesana, apalagi setelah membaca ulang buku Imperium III (recommended book ni). Saya coba mempelajari beberapa sapaan dalam bahasa Jepang, mendalami karakter, budaya sampe membuka kembali buku-buku dan artikel terkait tentang jepang, khususnya budaya kerja dan gaya manajemennya.

Saya ingin berbagi sedikit tentang 2 prinsip kinerja cemerlang yang disarikan dari budaya Jepang yang ternyata begitu sering kita dengar, namun sedikit dari kita yang mampu mempraktekkannya secara konsisten. Dan ketika dikaji lebih dalam, ternyata sangat dekat dengan prinsip dan akhlak Islam. Penasaran? :), yuk kita bedah satu persatu. .

Hansei, Kaizen & Toyota 
Mendengar kata Hansei, mungkin kebanyakan kita akan mengerutkan dahi dan berkata "apaan tuh?" saya juga melakukan hal yang sama, karena saya baru pertama kali bertemu dengan kata itu. Jadi ini kita bahas nanti ya. Bagaimana jika saya sebutkan kata KAIZEN? Nah kata ini bisa jadi sedikit lebih familiar, karena memang sangat sering disebutkan dalam berbagai buku dan bahkan menjadi trademark manajemen ala jepang.

Kaizen merupakan salah satu budaya bangsa jepang yang diaplikasikan dalam bisnis dan pengelolaan perusahaan yang intinya adalah Perbaikan Berkesinambungan, bahasa kerennya Continuous Improvement. Dengan konsep ini perusahaan-perusahaan jepang mampu melejit menjadi perusahaan yang diperhitungkan tidak hanya di jepang tetapi juga didunia. Salah satunya adalah TOYOTA, perusahaan mobil yang dulu penulis (baca : saat masih kecil) anggap adalah perusahaan Indonesia (akibat nama toyota Kijang yang begitu fenomenal) kini menjadi Raja otomotif Dunia; Toyota corporation, Memasukkan Kaizen sebagai salah satu prinsip ke 14 dalam Toyota Way (kalo ada budget, boleh dikoleksi buku The Toyota Way :))

Perbaikan kecil setiap hari 
Dalam konsep Kaizen, perusahaan menjadikan perbaikan sebagai sebuah keniscayaan, bahkan perbaikan itu dilakukan SETIAP HARI, dimulai dari hal-hal yang kecil, dan dilakukan sekarang juga (ternyata 3Mnya Aa Gym adalah penjelasan sederhana ttg kaizen :D). Penerapan ini membuat perusahaan, harus lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bisa anda bayangkan dan pikirkan, ketika perbaikan itu dilakukan terus menerus maka hasil dan kualitas terbaik tentu akan mampu dicapai oleh sebuah perusahaan. Konsistensi pelaksanaan Kaizen sudah dicontohkan secara gamblang oleh Toyota dan hasilnya kualitas yang hebat hampir disemua lini.

Tahukah Anda, perbaikan-perbaikan di toyota bahkan dimulai dari hal yang sangat kecil semisal penempatan alat, perapian meja kerja, ketepatan waktu, kebersihan lantai kantor, terus mengalir hingga ke kompetensi tim,produk, pelayanan, kualitas secara konsisten. Sehingga karena saking bersihnya lantai kantor Toyota, Anda bisa duduk makan siang langsung diatasnya. Tidak hanya kualitas internal yang sempurna, kualitas produk yang dihasilkan bisa dibilang kelas 1 dibidangnya. Gimana, ingin mulai mempraktekkan Kaizen? (bersambung di bagian 2)

By Fahrurrazi
Twitter : @ajicelestia

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

"Art of Handling Complain"


Bagi seorang marketer, sanggahan oleh calon konsumen adalah makanan sehari-hari. Namun tak jarang sanggahan tsb membuat bingung, mati kutu yg ujung2nya men"down"kan (wabil khusus bagi marketer pemula).

Sy ingin berbagi fakta menarik dari sanggahan, agar mindset kita berubah 180% dan mampu mengolah sanggahan menjadi "hot button" penutupan penjualan. Mari kita cek beberapa persepsi n faktanya.

1. Persepsi kita : Calon konsumen (CK) menyanggah berarti mereka tidak berminat dgn produk. FAKTAnya : tidak ada sanggahan, maka tidak ada minat, tdk ada minat tdk ada penjualan. Nah, itu berarti semakin banyak sanggahan, semakin besar peluang keberhasilan menjual.

2. Persepsi dan respon kita : Menyanggah/menyerang balik sanggahan konsumen. FAKTAnya : Kebanyakan orang tidak suka disanggah atas pendapat mereka (ego), begitu juga CK. Di bagian ini kita sering terjebak, untuk "membela" produk :). jangan gegabah, terima sanggahan dengan bijak, perlakukan sanggahan sebagai permohonan lebih banyak informasi dari CK kepada kita.

3. Persepsi kita : CK yg banyak bertanya dan menyanggah, adalah CK yg cerewet dan ujung2nya tdk membeli. FAKTAnya : CK seperti itu adalah CK yg membutuhkan alasan baik baginya utk membeli produk kita. mereka tidak ingin kecewa dan menyesal, mereka butuh dukungan positif tuk mengambil resiko pembelian.


Maka jangan ragu menyimak setiap sanggahan, memuji dan memberi alasan HEBAT. Mindset baru terhadap sanggahan ini InsyaAllah akan merubah perilaku dan respon kita thp calon konsumen dan tentu pula hasil akhirnya yaitu Penjualan yg Sukses. Selamat mempraktekkan! love ur costumer, serve with d best! @Aji

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Agar Training Tidak Sia-Sia



Apakah Anda pernah mendengar RTL? bagi aktivis organisasi atau karyawan di sebuah perusahaan, tentu singkatan tersebut sudah tidak asing lagi ya. Hampir dipastikan setelah dilaksanakannya sebuah training atau workshop, kegiatan yang disingkat RTL ini menjadi sarana "follow up" yang sangat penting. 

RTL atau Rencana Tindak Lanjut merupakan tahapan akhir training atau workshop, yang dilakukan guna memastikan peserta mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan, teori dan praktek dalam training ke dalam aktivitas kerja sebenarnya. Tidak hanya itu, hasil kinerja yang lebih baik juga akan menjadi ukuran berhasil tidaknya training dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.

Nah, kira-kira apa saja isi dari RTL ini. Yuk kita bedah satu persatu :
1. Peserta harus memastikan APA yang akan mereka perbaiki, laksanakan atau sempurnakan (merujuk pada big plan organisasi atau perusahaan)
2. Kemudian menggali secara mendalam MENGAPA hal-hal tersebut yang menjadi prioritas
3. Pastikan KAPAN rencana tersebut dikerjakan dan diselesaikan
4. Pilih SIAPA orang- orang yang tepat tuk melaksanakan rencana tersebut
5. dan BAGAIMANA cara mengerjakannya secara efektif dan efisien Isi rencana diatas didiskusikan oleh peserta dalam lingkup bidang kerja atau wewenang masing-masing.

Dalam sesi ini, ide-ide, analisa, diskusi yang membangun diharapkan muncul guna menjadikan rencana semakin baik. Bukan hanya "sekedar" merancang seadanya, tapi dengan sebaik-baiknya. RTL yang telah jadi, akan menjadi pedoman tim atau karyawan dalam bekerja.

Komitmen yang kuat atas pelaksanaan harus dimiliki tim, agar rencana tersebut tidak hanya menjadi tulisan diatas kertas saja, namun mewujud ke dunia nyata. Akhirnya, RTL menjadi sebuah keniscayaan agar training dan workshop yang kita laksanakan tidak SIA-SIA. Jangan pulang dari training tanpa RTL, karena jika itu terjadi TAMATLAH training kita :) @aji

FB : ajicelestia 
Twitter : ajicelestia Give to Great!

0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Dream Job # Take it & Love it


Apa pekerjaan impian anda? 
Eksekutif perusahaan besar dengan kantor luas, mobil dinas, bawahan yang siap bergerak, jam meeting padat, supir yang siap menjemput dan bekerjafrom nine to five? Atau seorang businessman yang pagi di Jakarta, siang di Surabaya dan sore di Singapura? Atau yang lebih keren lagi, actor terkenal dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah untuk satu film? Atau mungkin pemain sinetron kejar tayang dengan tuntutan menangis menye-menye sampai 12 season? Hehe…paling tidak pilihan pilihan pertama dan kedua pernah mampir di otak saya ketika kuliah dulu. Sekarang pun masih kadang-kadang. 

 
Apapun pekerjaan impian kita, itu akan sangat menyenangkan kalau kita menikmati dan mencintainya. Apalagi kalau pekerjaan itu adalah hobby kita atau ada hubungan dengannya. Tanpa cinta passion tidak akan muncul apalagi nikmat. Yang ada pekerjaan itu akan menjadi beban yang menghantui. 

 
Pekerjaan saya sekarang jauh dari apa yang ada di impian saya dulu. Saya tidak mempunyai kantor luas (tapi berniat memilikinya suatu saat), kendaraan pribadi dan jam kerja nine to five. Saya juga tidak harus setiap hari memakai kemeja konservatif, dasi, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat walaupun sering juga diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang kerja. Dengan mengesampingkan alasan kenyaman saya lebih suka memilih naik angkot. Tapi alasan lainnya sih karena saya tidak bisa menyetir. Sehingga pernah ada dua mobil di garasi nganggur dan saya kemana-mana naik angkot karena yang biasa menyupiri saya sedang tidak ada. 

 
Banyak orang yang memimpikan mempunyai pekerjaan yang bisa membuatnya travel kemana-mana dan bertemu banyak orang. Saya mempunyai pekerjaan itu sekarang dan sangat menikmati travelling karena itu memang salah satu passion saya. 

 
Ketika banyak orang pagi-pagi sudah rush ke tempat kerja masing-masing, saya biasanya sedang menikmati rutinitas pekerjaan saya. kalau saya tidak tidur lagi setelah rutinitas subuh biasanya saya membaca dan menonton berita pagi. Kemudian saya akan menyambar sepatu olahraga saya dan segera menggerak-gerakkan badan kemudian siap untuk jogging. Rasanya aneh juga jogging pagi-pagi ketika kebanyakan orang sudah berpakaian rapid an terburu-buru berangkat bekerja. Saya merasa seperti melawan arus. Kalau di tempat saya sekarang, saya biasanya berlari menyusuri pantai kemudian melakukan pelemasan sambil memandang laut. Setelah puas berimajinasi di pinggir pantai saya akan pulang untuk sarapan. Sarapan saya simple. Saya akan ke warung tenda di ujung jalan yang menyediakan bubur kacang hijau campur kolak dan ketan hitam kesuakaan saya. satu mangkuk bubur campur dan dua buah pancake khas Padang (mereka menyebutnya panekuik), cukup memberi saya energy di pagi hari. Saya akan menghabiskan sarapan saya berlama-lama sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. sok-sok menjadi observer. 

Jam 9 an saya kembali ke rumah dan mandi. Kalau sempat luluran dulu dengan lulur kopi dan lavender yang baru saya beli. Banyak yang protes karena mandi saya lama. Saya memang berniat mandi lama karena selain kadang harus luluran, ide-ide saya banyak muncul ketika saya di kamar mandi. Biasanya saya akan langsung berimajinasi dan berencana yang hebat-hebat dengan ide saya itu. Saya memang seorang pemimpi. 

 
Ketika orang lain mungkin sedang hectic dengan pekerjaan mereka di dengan file-file yang menumpuk di depan mereka,saya juga mulai membuka laptop saya dan mulai bekerja sesuai dengan rencana dan target kerja yang saya buat semalam sebelum tidur.Efek dari tidak mempunyai atasan yang terlibat langsung dengan pekerjaan saya, saya harus mengatur semua jadwal kerja saya seefektif mungkin. Oleh karena itu saya bisa sangat-sangat sibuk sampai tidak mau ditelepon kecuali oleh ibu saya atau sama sekali tidak mempunyai deadline pekerjaan selama satu hari. Kalau memang tidak ada yang dikerjakan, saya hanya akan membaca dan surfing di dunia maya. Kalau sedang bosan di rumah, saya akan memboyong laptop dan file-file pekerjaan saya ke kafe favorit saya dan bekerja di sana. 

 
Kadang-kadang saya juga harus ke kantor dengan pakaian rapi jali ala eksekutif muda. Kadang-kadang saya cukup ngantor dengan jeans dan t-shirt atau lebih banyak T-shirt dengan bermuda alias celana pendek sebetis. Seperti sekarang misalnya, saya kadang-kadang harus ke kantor dengan kemeja dan dasi rapi untuk meeting. Tapi setelah meeting selesai saya akan pulang kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan di kantor. 

 
Ketika sore beranjak, barulah saya 'benar-benar bekerja' formal seperti yang lainnya. Saya harus masuk ke kelas untuk mengajar selama 2'5-3 jam atau dua kali dari itu kalau saya harus menghandle dua kelas. Kalau ada peserta training yang masih berkonsultasi dan kadang-kadang hanya sekedar mengobrol, saya kadang-kdang harus pulang jam sebelas malam karena melayani mereka. Saya sangat bahagia bisa menjadi kepercayaan mereka untuk member mereka suntikan motivasi atau memecahkan permasalahan belajar mereka. 

 
Terkadang saya juga dilanda mellow, down dan sejenisnya. Akan tetapi ketika saya bertemu kembali dengan peserta training saya, semua down, kesedihan dan saudara-saudaranya menguap bitelan keceriaan dan semangat peserta training saya. 

 
Efek dari "tidak mempunyai kantor " membuat saya harus pandai-pandai membuat strategi ketika harus mengadakan pelatihan, upgrading atau meeting buat tim saya. terkadang saya mengadakan training buat mereka di kafe atau outdoor sekalian. Saya pernah mentraining tim kerja baru saya di pinggri pantai sore-sore. Menurut saya itu sangat menyenangkan. Tim mendapat training, pikiran segar. Tapi terkadang saya juga harus menyewa tempat ketika saya butuh tempat yang agak luas untuk tim saya. 

 
Menurut saya, semakin lama pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. Kemajuan teknologi membuat kita tidak harus selalu duduk di belakang meja. Dalam pekerjaan saya misalnya, saya harus berkomunikasi dengan tim yang tidak berinteraksi langsung dengan saya via internet atau telepon. Akan tetapi memang perlu kemampuan manajerial yang cukup karena semua jadwal dan pergerakan tim diatur sendiri. Bebeda dengan pekerja kantoran yang sudah punya alokasi waktu dari jam sekian sampai jam sekian. Nine to five. Saking besarnya authority saya terhadap pekerjaan saya, saya bahkan bisa membuat sendiri liburan saya kapan. Nah, saya punya rencana untuk memanage pekerjaan tim saya dari rumah saya di desa lereng gunung di Bima sana suatu saat, tim saya di Padang dan saya di lereng gunung di Bima. 

Bagaimana dengan pekerjaan anda? Do you enjoy it?

By Erik Marangga
Kunjungi blog pribadi penulis di http://erikmarangga.blogspot.com



0 comments:

Posted by Aji Celestia | 0 comments

Bodoh Jadi Sukses, Pintar Jadi Gagal?


Bukan maksud bermain kata, namun sepengalaman saya, ini terjadi dan mungkin juga dalam kehidupan pembaca juga pernah mengalami atau menyasikan dimana orang bodoh bisa menjadi sukses dan berhasil dan orang pintar bisa menjadi gagal.

Disini saya mencoba menerangkan bagaimana sistematika orang bodoh menjadi sukses, secara umum bodoh itu adalah orang yang tidak banyak tahu, IQ rendah,  dan tidak mengenyam pendidikan formal dan non formal untuk belajar bukan? Ya, masyarakat kita secara umum mengatakan seperti itu.

Namun mereka sebenarnya sangat mudah untuk menjadi pintar dan sukses, kenapa? Salah satu karakteristik bodoh yang akan menjadi pintar dan sukses adalah, mau untuk belajar, berusaha dan menyerah, oke akan saya jelaskan satu persatu.

Bodoh Mau Belajar
Orang bodoh yang menyadari kalau dia bodoh, dan mengetahui kebodohannya, dan mau merubah kebodohannya menjadi pintar, tentunya semangat belajarnya akan lebih tinggi dari orang yang menyadari dirinya pintar dan tahu kepintarannya bukan? Karena dia mengetahui dirinya bodoh! Walaupun dalam teknis memintarkan dirinya, ia tidak bersekolah di lembaga, tapi dia belajar dari orang yang pintar.

sebenarnya orang bodoh sejati adalah orang yang tidak tahu dia itu bodoh, dan tidak dimana letak kebodohannya, serta tidak menyadari kebodohannya. Maka dia tidak akan pernah belajar, selama ia tidak menyadari dan mau untuk merubah kebodohannya itu.

Bodoh Mau Berusaha
Orang yang menyadari dirinya bodoh dan mau merubah kebodohannya itu tadi, dia berusaha mengoptimalkan otaknya dan apa yang dipelajarinya yang sedikit tadi, namun dia berusaha lebih, dari apa yang dia pelajari, ia tekun terus dan terus, tidak lupa belajar supaya nia terus berinovasi dengan usaha yang ia kemabangkan untuk sukses.

Katanya orang bodoh yang ingin sukses adalah, ia melakukan hal yang sama untuk hasil yang jauh lebih tinggi dari hasil yang ia usahakan dengan cara sebeumnya. Karena itu tak mungkin terjadi, kecuali dia berbuat curang, dan curang itupun bukan cara yang sama untuk dapat menghasilkan hasil yang berbeda.

Bodoh Mau Menyerah
Nah.. biasanya orang pintar atau orang bodoh yang sering lebih cepat menyerah? Mungkin sebagian kita bilang ya orang bodoh yang lebih cepat menyerah, karena dia bodoh, dan orang pintar itu dengan kepintarannya dia akan terus berusaha.

Namun dalam kenyataannya, orang bodoh secara kapasitasnya yang terbatas, memang akan lebih cepat menyerah, namun itu yang membuatnya lebih cepat sukses, karena ketika menyerah, orang bodoh yang mau sukses tadi, akan mencari orang yang pandai bin pintar mengerjakannya, jadi dia tinggal tunggu hasinya, ya at least dia jadi cepat sukses.

Sementara orang bodoh sejatinya dia tidak pernah menyerah dan terus berusaha dan percaya dengan usahanya, sehingga dia yakin bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga orang bodoh ini akan menjadi sulit sukses. Dan di akhir hidupnya ia akan tau, owh.. ada yang lebih hebat dan bisa membantu saya ya..

Dan Steve Jobs pun ter-inspirasi dengan kalimat; stay foolish stay hungry!

By Ridho Hudayana
Kunjungi blog pribadi penulis di http://ridhopsi.blogspot.com/

0 comments: