Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Life Skills, have you had it?


kriteria pekerja dan pengusaha yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang memiliki integritas dan antusias. tanpa integritas, orang akan menjadi kuda liar yang tak bisa dikenalikan dan berpotensi merusak dan menipu. namun orang yang memiliki integritas tanpa antusias, maka tidak akan berkembang dan memperbesar kemanfaatan dirinya untuk orang lebih banyak. Jika masalah potensi cerdas, itu sudah dimiliki oleh manusia pada umumnya. 
by Ridho Hudayana(inspired by Dahlan Iskan)

Skillful and Smart Are not Enough
Hari ini orang yang hanya mengandalakan skill dan kepintaran akan merugi, karena mereka akan segera tergantikan dengan mesin-mesin yang lebih pintar dan lebih skilful dari mereka. Lihatlah perubahan disekitar kita yang begitu cepat dan dahsyat.Hampir semua kebutuhan kita bisa digantikan dengan tenaga mesin yang berteknologi tinggi. Mampu melayani hampir semua keutuhan manusia.

Sehingga banyak film box office yang bertemakan masa depan yang menampilkan kecanggihan robot yang melayani manusia.Sehingga diprediksikan masa depan manusia hanya sebagai operator saja, bahkan sekedar menjadi penikmat saja.

Maka manusia yang hanya mengandalkan skill dan kepintaran saja dalam bidangnya menjadi useless. Dan seperti yang kita lihat hari ini, manusia menjadi tidak perlu skillful dan terlalu pintar dalam bidangnya untuk menjadi sukses, cukup mereka memiliki  sedikit engetahuan untuk mengoperasikan tknologi dan life skill yang baik, maka mereka pun akan menjadi sukses.

Life Skill is Powerful
Dalam suatu wawancara Hermawan Kartajaya sebagai CEO MARKPLUS Inc. kepada seorang Dahlan Iskan sebagai menteri BUMN. Ada suatu yang mengesankan di akhir wawancara antara mereka berdua, yang saya unduh dari youtube sekitar 2 minggu yang lalu.Diakhir wawancara, pak Hermawan mengajukan pertanyaan ke pak dahlan, yang intinya menanyakan, pegawai BUMN yang ideal untuk menjadikan perusahaan dibawah BUMN menjadi perusahaan yang bersaing dalam marketingnya dengan perusahaan-perusahaan swasta/asing itu seperti apa?

Dengan cukup lugas pak dahlan menjawab yang intinya pegawai yang cocok untuk bekerja di BUMN itu adalah pegawai yang memiliki soft skill/life skill yaitu, Integritas dan antusias, karena kalau berdasarkan sekedar skill dan kepintaran dalam bidangnya, itu semua dimiliki oleh orang yang bergabung diperusahaan rata-rata, baik skill dan kepintaran itu bisa dilatih dan dikembangkan. Karena kalau pegawai BUMN tidak memiliki life skill, integritas dan antusias, maka BUMN dimana ia bekerja menjadi tidak akan berkembang dan mungkin akan bangkrut.

Namun jika pegawai BUMN hanya memiliki integritas saja, maka perusahaan tidak akan berkembang, dan jika pegawai itu hanya memiliki antusias saja maka ia akan dicurigai dikarenakan akan membuat kerugian dan penipuan terhadap perusahaan.

Maka untuk BUMN yang bersaing maka dibutuhkan pegawai yang memiliki life skill integritas dan antusias. Karena mereka bisa dipercaya dan lebih progressif dalam pengembangan perusahaan. Mereka yang diharapkan menjadikan BUMN menjadi bersaing di dalam dan diluar negeri.

Without Life Skill (is the Reason of) Re-Sign
 Suatu ketika ada penelitian disebuah peruahaan jasa asuransi yang memperkerjakan agen asuransi, kira-kira  100 agen yang bekerja ditahun pertama. Dan diakhir tahun pertama lebih dari  50% dari agen itu mengundurkan diri. Dan ini kerap kali terjadi diperusahaan ini.

Perusahaan tidak mau mengalami kerugian karena pengeluaran untuk biaya training agen asuransi baru membengkak. Maka perusahaan asuransi tersebut mengadakan peneitian terhadap agen asuransi yang masih bekerja dan yang mengundurkan diri.

Maka dari data yang diperoleh menunjukkan, mereka yang mengundurkan diri dikarenakan tidak tahan terhadap penolakkan calon konsumen asuransi, padahal mereka adalah orang yang memiliki latarbelakang akademis yang sanat memenuhi syarat dan emahami betul duna marketing. Namun rupanya mereka tidak antuias karena tidak tahan dengan penolakkan dari calon konsumen.

Lain halnya yang masih bertahan di perusahaan asuransi tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki latar belakang akademis yang pas-pasan dan pemahaman dunia marketing yang juga masih sangat dasar. Namun mereka tidak pernah mengeluh atas penolakkan dari calon konsumen asuransi. Karena bagi mereka penolakkan adalah evaluasi untuk lebih baik lagi dalam menawarkan jasa asuransi. Dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan konsumen dan mencapai target.

So.. How to Build the Life Skill?
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar dari tulisan ini adalah bagaimana membangun life skill ini? Jawabannya adalah dengan memperbanyak pengalaman gagal dan mencoba. Itu berarti jika anda ingin memunculkan dan belajar mengenai life skill ini maka anda memerlukan banyak latihan menghdapi penolakkan dan mau belajar.

Langkah pertama adalah anda harus bergabung dalam komunitas atau lembaga yang anda bisa mengerjakan proyek-proyek dari entitas/komunitas dimana anda bergabung, tentunya yang anda sukai. Langkah kedua, ketiga, dan selanjutnya adalah jangan perna menyerah dalam setiap proyek-proyek yang anda kerjakan. Kuncinya adalah Integritas dan Antusias!

By Ridho Hudayana
Kunjungi blog pribadi penulis di http://ridhopsi.blogspot.com/





Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

What is best practice?


A best practice is a technique or methodology that, through experience and research, has proven to reliably lead to a desired result. A commitment to using the best practices in any field is a commitment to using all the knowledge and technology at one's disposal to ensure success. The term is used frequently in the fields of health care, government administration, the education system, project management, hardware and software product development, and elsewhere.

In software development, a best practice is a well-defined method that contributes to a successful step in product development. Throughout the software industry, several best practices are widely followed. Some of the more commonly used are: an iterative development process, requirement management, quality control, and change control.

An iterative (meaning repetitive) development process, which progresses in incremental stages, helps to maintain a focus on manageable tasks and ensures that earlier stages are successful before the later stages are attempted. Requirement management addresses the problem of creeping requirements, which is a situation in which the client requests additional changes to the product that are beyond the scope of what was originally planned. To guard against this common phenomenon, requirement management employs strategies such as documentation of requirements, sign-offs, and methodologies such as the use case.

Quality control is a strategy that defines objective measures for assessing quality throughout the development process in terms of the product's functionality, reliability, and performance. Change control is a strategy that seeks to closely monitor changes throughout the iterative process to ensure that records are intact for changes that have been made and that unacceptable changes are not undertaken.

A best practice tends to spread throughout a field or industry after a success has been demonstrated. However, it is often noted that demonstrated best practices can be slow to spread, even within an organization. According to the American Productivity & Quality Center, the three main barriers to adoption of a best practice are a lack of knowledge about current best practices, a lack of motivation to make changes involved in their adoption, and a lack of knowledge and skills required to do so.

Posted by: Margaret Rouse
Source : http://searchsoftwarequality.techtarget.com/
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Filosofi Bisnis Jepang (2)

Melihat efek positif dari pelaksanaan kaizen, tentu banyak perusahaan yang ingin melakukan hal yang sama, tak terkecuali Sang Bintang School (SBS), lembaga tempat saya bekerja sekarang. Kami begitu terobsesi tuk menerapkan konsep-konsep manajemen modern, salah satunya Kaizen guna terus menghebatkan perusahaan.

Secara bertahap konsep Kaizen diterapkan melalui CoM (Colourful Management®). CM adalah konsep unik dalam mengevaluasi dan meningkatkan kinerja tim di perusahaan kami. Nah, selain prinsip Kaizen ada prinsip lain yang juga tak kalah penting dalam filosofi bisnis di jepang yaitu Hanseii.

Sebelum Kaizen, Hansei dulu 
Ternyata ada prinsip penting yang harus dilakukan sebelum kita ber "Kaizen" ria. Prinsip yang menjadi dasar pelaksanaan Kaizen, mustahil Kaizen ada tanpanya. Karena prinsip ini pulalah, perusahaan Toyota menjadi begitu sedikit membicarakan tentang kesuksesan dan keberhasilan, mereka memegang prinsip Hansei. Mereka merayakan kesuksesan dengan kerendahan hati.

Apa sih Hansei? Pengen tahu :)? Hansei adalah refleksi diri tanpa kompromi dan bersikap jujur terhadap kelemahan. Perusahaan secara keseluruhan harus melakukan pengakuan atas kesalahan, refleksi diri, kemudian berjanji memperbaiki kesalahan dan menjadikannya lebih sempurna. Tidak hanya itu, perusahaan harus terus mengenali kelemahannya yang ada dan mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan sesegera mungkin. Ini menjadi akar dari kaizen.

Hansei = Taubatan Nasuha
Kalo saya boleh meminjam istilah dalam Agama Islam, konsep Hansei mirip dengan Taubatan Nasuha atau taubat sebenarnya. Kenapa demikian? Sebagai contoh : Apa yang anda rasakan pertama kali ketika melakukan kesalahan? Pastinya kita merasakan sedih kemudian anda merenungi diri lalu berjanji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi, dan bahkan segera melakukan sebanyak-banyaknya amal kebaikan. Seperti itulah juga Hansei. Para pekerja di Jepang menjadi begitu sensitif dengan kesalahan-kesalahan hingga yang terkecil. Kesediaan untuk mengevaluasi diri menjadi karakter sebagian besar para pekerja di jepang, khususnya di perusahaan Toyota. Ketika ada kesalahan mereka segera mengakui itu, mencari apa penyebabnya dan segera merencanakan solusi-solusi perbaikan.

Hansei tidak hanya sekedar menjadi pola pikir tetapi dipraktekkan setiap hari sehingga menjadi sikap dan budaya kerja.Jadi jangan heran melihat pekerja jepang, akan menunduk meminta maaf berkali-kali jika melakukan kesalahan. Jika demikian, berarti hampir tiap hari pekerja-pekerja di jepang melakukan Taubatan Nasuha atas bisnis mereka, berjamaah pula!! Duahsyattt!! Maka wajar sajalah untuk ukuran kesuksesan duniawi, mereka sudah benar-benar meraihnya.

Bayangkan ketika wirausahawan muslim melakukan hal yang sama, efeknya dunia akhirat :). Ketika perusahaan sudah mampu membangun pola pikir dan sikap ini diseluruh lapisannya, maka perusahaan akan segera bertranformasi menjadi organisasi pembelajar, dimana Hansei dan kaizen saling menumbuhkan. Perusahaan akan terus belajar tuk berperilaku, belajar mengakui kesalahan, belajar memperbaikinya, berjanji tuk membuat rencana peningkatan dan meraih prestasi yang lebih hebat, makin hebat dan terus hebat! Selamat mempraktekkan!

Yoi ichi nichi o!


By Fahrurrazi
Twitter : @ajicelestia
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Filosofi Bisnis Jepang (1)

Akhir-akhir ini saya lagi demam Jepang. Saya pingin banget pergi kesana, apalagi setelah membaca ulang buku Imperium III (recommended book ni). Saya coba mempelajari beberapa sapaan dalam bahasa Jepang, mendalami karakter, budaya sampe membuka kembali buku-buku dan artikel terkait tentang jepang, khususnya budaya kerja dan gaya manajemennya.

Saya ingin berbagi sedikit tentang 2 prinsip kinerja cemerlang yang disarikan dari budaya Jepang yang ternyata begitu sering kita dengar, namun sedikit dari kita yang mampu mempraktekkannya secara konsisten. Dan ketika dikaji lebih dalam, ternyata sangat dekat dengan prinsip dan akhlak Islam. Penasaran? :), yuk kita bedah satu persatu. .

Hansei, Kaizen & Toyota 
Mendengar kata Hansei, mungkin kebanyakan kita akan mengerutkan dahi dan berkata "apaan tuh?" saya juga melakukan hal yang sama, karena saya baru pertama kali bertemu dengan kata itu. Jadi ini kita bahas nanti ya. Bagaimana jika saya sebutkan kata KAIZEN? Nah kata ini bisa jadi sedikit lebih familiar, karena memang sangat sering disebutkan dalam berbagai buku dan bahkan menjadi trademark manajemen ala jepang.

Kaizen merupakan salah satu budaya bangsa jepang yang diaplikasikan dalam bisnis dan pengelolaan perusahaan yang intinya adalah Perbaikan Berkesinambungan, bahasa kerennya Continuous Improvement. Dengan konsep ini perusahaan-perusahaan jepang mampu melejit menjadi perusahaan yang diperhitungkan tidak hanya di jepang tetapi juga didunia. Salah satunya adalah TOYOTA, perusahaan mobil yang dulu penulis (baca : saat masih kecil) anggap adalah perusahaan Indonesia (akibat nama toyota Kijang yang begitu fenomenal) kini menjadi Raja otomotif Dunia; Toyota corporation, Memasukkan Kaizen sebagai salah satu prinsip ke 14 dalam Toyota Way (kalo ada budget, boleh dikoleksi buku The Toyota Way :))

Perbaikan kecil setiap hari 
Dalam konsep Kaizen, perusahaan menjadikan perbaikan sebagai sebuah keniscayaan, bahkan perbaikan itu dilakukan SETIAP HARI, dimulai dari hal-hal yang kecil, dan dilakukan sekarang juga (ternyata 3Mnya Aa Gym adalah penjelasan sederhana ttg kaizen :D). Penerapan ini membuat perusahaan, harus lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bisa anda bayangkan dan pikirkan, ketika perbaikan itu dilakukan terus menerus maka hasil dan kualitas terbaik tentu akan mampu dicapai oleh sebuah perusahaan. Konsistensi pelaksanaan Kaizen sudah dicontohkan secara gamblang oleh Toyota dan hasilnya kualitas yang hebat hampir disemua lini.

Tahukah Anda, perbaikan-perbaikan di toyota bahkan dimulai dari hal yang sangat kecil semisal penempatan alat, perapian meja kerja, ketepatan waktu, kebersihan lantai kantor, terus mengalir hingga ke kompetensi tim,produk, pelayanan, kualitas secara konsisten. Sehingga karena saking bersihnya lantai kantor Toyota, Anda bisa duduk makan siang langsung diatasnya. Tidak hanya kualitas internal yang sempurna, kualitas produk yang dihasilkan bisa dibilang kelas 1 dibidangnya. Gimana, ingin mulai mempraktekkan Kaizen? (bersambung di bagian 2)

By Fahrurrazi
Twitter : @ajicelestia
Read more...