Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Belajar Komunikasi Marketing dari Orkestra

Ketika Saya membaca beberapa buku yang membahas tentang komunikasi marketing, saya sangat tertarik pada salah satu pembahasan yang menyinggung teori harmonisasi orkestra terhadap marketing, sampai saat ini saya masih sangat penasaran dan tertarik untuk membahasnya, kata yang menarik menurut saya adalah kata “orkestra”, bagaimana mungkin orkestra bisa dihubungkan dengan teori komunikasi marketing?.     

Kalau anda pernah menyaksikan pertunjukan orkestra, tentu anda tau pertunjukan orkestra yang sangat menarik yang selalalu ditayangkan di salah satu stasion televisi, sebut saja acara Harmoni yang ditayangkan di SCTV, acara ini selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmat music tanah air karna menghasilkan kualitas penampilan music yang sangat fantastis sehingga ketika acara ini tidak di tayangkan lagi banyak sekali masyarakat (penonton) yang meminta acara harmoni diadakan kembali yang akhirnya acara ini tetap di tayangkan oleh SCTV.     

Dengan bekal semangat mengetahui lebih jauh tentang orkestra ini, akhirnya saya mencoba mempelajari lewat internet tentang apa sih unsur-unsur yang ada dalam orkestra sehingga layak kita jadikan referensi untuk membangun komunikasi marketing dalam organisasi/perusahaan kita. Spirit Marketing dari waktu ke waktu.     

Kalau kita berbicara marketing yang terlintas dalam benak kita pasti beragam, mungkin ada yang beranggapan marketing itu adalah penjualan, marketing itu mengenalkan product, marketing itu sales, marketing itu menyebar brosur,poster atau tools lainnya, marketing itu menawarkan product atau jasa, marketing itu iklan atau bahkan marketing itu ada;alh iklan lewat internet. Tapi apapun yang anda pikirkan tentang marketing semua itu adalah bagian-bagian dalam marketing, anda benar! Semua itu adalah marketing.
     
Dari waktu ke waktu teori tentang marketing mengalami perkembangan yang sangat beragam, diambil dari sejarah munculnya konsep marketing dalam buku “Marketing Communication” yang ditulis oleh dr. Martani Huseini (2008) yang menerangkan bahwa di era 1950-an bermunculan konsep marketing mix, product life cycle, brand image, market segmentation, marketing consept dst.     

Konsep pemasaran yang mulai bersentuhan dengan media interaktif dan internet muncul di era 1980-an, yang pada waktu itu yang gencar adalah konsep marketing warfare, internal marketing, nichel marketing, global marketing, local marketing hingga direct marketing kemudian konsep ini semakin berkembang di era 1990-an diataranya online/cyber marketing.     

Hingga saat ini konsep marketing sudah sangat berkembang lebih jauh lagi sampai menyentuh pendekatan psikologis yang mengikat emosi pelanggan, social masyarakat bahkan sudah sampai menyentuh spiritual pelanggan, dalam istilah Hermawan Kartajaya marketing 3.1.     

Semakin beragamnya sifat dan karakteristik pelanggan semakin pula berkembang konsep marketing hingga saat ini, begitu pula konsep dan praktek marketing yang pernah saya lakukan di Sang Bintang school (SBS). Dari waktu ke waktu mengalami perubahan dan perkembangan konsep yang diterapkan, sebagaimana telah diketahui oleh sebagian tim SBS model marketing yang terapkan dimana kita kenal dengan “total marketing” yang mengerahkan segenap potensi marketing yang dimiliki, kemudian kita kenal juga “happy marketing” yang merubah mindset tim bahwa bermarketing itu bisa dimana saja, kapan saja dan melakukannya dengan happy, ada juga “aweek marketing” yang memusatkan aktifitas marketing di satu titik selama 1 minggu, kemudian “genius marketing”, dst.     

Beragamnya model marketing yang di munculkan itu semua karna semakin beramnya calon pelanggan SBS yang semakin hari semakin beragam dan SBS harus mengakomudir kebutuhan calon pelanggan tersebut, namun apapun itu, harusnya menjadi spirit bagi kita selaku tim di SBS untuk selalu melakukan inovasi unntuk membangun kesuksesan marketing, spirit marketing dan pembelajaran harus tertanam dalam diri tim untuk mewujudkan kesejahteraan cita-cita besar organisasi/perusahaan.

Belajar dari Orkestra     
Sejak saya bergabung di SBS dan melakukan bergaram aktifitas marketing, ada hal yang menurut saya sangat penting untuk dikuasai oleh tim yaitu komunikasi marketing (marketing communication), komunikasi marketing ini akan berjalan dengan apik jika ada aspek strategis didalamnya strategi komunikasi marketing (Strategic Communication Marketing).     

Beberapa bulan yang lalu saya membeli buku yang judulnya “Marketing Communication Orkestra” di Islamic Book Fair Malang, dalam buku itu dipaparkan konsep Strategic Marketing Communication yaitu segitiga emas Strategic Marketing Communication.     

Untuk memudahkan kolaborasi tiga elemen dari Strategic Marketing Communication yaitu strategi, pemasaran dan komunikasi, maka dari ke tiga elemen tersebut perlu memiliki sense of strategy, sense of marketing, sense of communication sehingga kemudian ini menjadi spirit yang terus bergerak dalam tim yang akhirnya mencapai tujuan marketing layaknya orkestra yang menghasilkan irama yang begitu merdu karna harmonisasi antara elemen didalamnya.     

Komunikasi marketing tidak hanya butuh skill individu dalam menjalankan aktifitas marketing terutama iklan, public relation, event organizer, costumer service, direct marketing, promosi penjualan bahkan internet marketing. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah keselarasan atau harmonisasi, seperti orkestra music yang menghasilkan harmoni dan keindahan irama dalam music.     

Kemarin saya mencoba untuk mempelajari unsur-unsur penting dari orkestra melalui internet dan buku Marketing Communication Orkestra, ada 7 hal menarik menurut saya yang cocok untuk diadopsi dari filosofi orkestra yaitu satu dirjen, tematik, harmonisasi, berirama, spesifik, keterpaduan dan yang terakhir apresiasi. Ok saya coba paparkan satu per satu.

Satu Dirjen     
Dalam orkestra untuk menghasilkan tujuan bersama yaitu keindahan irama tidak ada pemimpin ganda, orkestra dipimpin oleh seorang dirjen. Nah, demikian juga seharusnya dalam sebuah organisasi/perusahaan, satu komando untuk mencapai tujuan bersama dan harus diikuti dengan ke Tsiqohan jundi (kepatuhan tim dibawahnya).

Harmonisasi     
Harminisasi dalam orkestra itu sangat penting untuk kesatuan dan keselarasan nada dan irama. Dalam komunikasi marketing juga seharusnya tercipta keselarasan dan kesatuan visi pencapaian antara tim, baik itu manajer, manajemen, tim pengajar, marketer dan juga tim pusat, kesatuan dan keselarasan itu bisa dalah hal tujuan, strategi, kebijakan, pemahaman product, dan juga media yang digunakan. Jika itu terjadi maka insyaallah akan terbentuk komunikasi marketing yang elegan.

Tematik     
Dalam orkestra pertunjukan yang ditampilkan bisa berupa music klasik atau music modern dan pada saat tertentu bisa menampilkan music etnik. Hal tersebut seharusnya sama juga diterapkan dalam komunikasi marketing yang hubungannya dengan inovasi product, sebuah organisasi/perusahaan harus bisa menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam, untuk mencapai pesan yang ingin disampaikan mengenai product maka cara dan komunikasi haruslah berbeda sesuai kebutuhan dan sasaran pelanggan.

Berirama     
Kalau kita perhatikan dalam orkestra tempo terkadang melambat dan tiba-tiba cepat lalu kemudian melambat atau lembut. Nah, begitupun seharusnya dalam organisasi/perusahaan dalam komunikasi marketing, mengatur irama kapan saatnya membangun citra, memanjakan pelanggan dan bahkan kapan harus berpacu untuk mendongkrak penjualan atau omset atau bahkan semua dilakukan beriringan.

Spesifik     
Tahukan anda kalau penggemar orkestra itu hanya dari kalangan tertentu saja?, tidak semua kalangan suka dengan music orkestra. Lalu bagaimana dengan program atau product sebuah organisasi/perusahaan? Tentu saja sama, oleh karena itu segmen yang dibidik harus sesuai dengan product kita dan tepat sasaran, sehingga hasil yang ingin dicapai akan maksimal, misalnya program SBS untuk dewasa “6 Minggu Bisa!” jangan sampai ditawarkan di sekolah-sekolah SD atau SMP tidak aka nada yang mendaftar, begitu juga segmen area atau wilayah sangat penting, misalnya area kampus, perumahan dst.

Keterpaduan     
Coba perhatikan dalam orkestra, Sikap tidak menonjolkan diri dan rendah hati sangat terasa diantara para pemain, coba kita bayangkan jika para pemain dalam orkestra saling menonjolkan diri yang main piano bermain sesuka hati, maka apa yang akan terjadi??.     

Begitupun dengan organisasi/perusahaan, tim yang terlibat didalamnya harus menjalankan fungsi kerjaannya sesuai dengan fungsinya masing-masing, jangan sampai terjadi saling merendahkan dan mengambil alih fungsi tim yang lain kecuali ada hal-hal yang sudah dikomunikasikan sebelumnya. Kalau keterpaduan ini terjaga insyaallah deh…

Apresiasi     
Coba deh kita perhatikan, sang dirjen biasanya mengucapkan ungkapan terima kasih kepada penonton atas partisipasi dan tepuk tangan sebagai respon aktif untuk menghargai penonton. Itu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki program khusus untuk pelanggan customer rewards atau biasanya bagi-bagi hadiah sebagai bentuk penghargaan terhadap pelanggan yang loyal.     

Diakhir tulisan saya ini, saya ingin memberikan penekanan bahwa untuk mencapai tujuan bersama organisasi/perusahaan mengkomunikasikan tujuan ataupun program sehingga tercipta harmoni dan keindahan irama, visi dan omset, spirit-lah yang harus kita tanamkan dalam diri kita masing untuk selaluterus bergerak melakukan perubahan. Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh : Mohamad Iqbal, S,Si
Twitter : @ibelajegile
Email : m.iqbal_sbs@yahoo.com
Web : www.IQBALajegiLe.blogspot.com
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

4 assumptions of Stephen R. Covey on mind, body, heart, and spirit

I have also found that by making four simple assumptions in our lives we can immediately begin leading a more balanced, integrated, powerful life.

They are simple–one for each part of our nature–but I promise you that if you do them consistently, you will find a new wellspring of strength and integrity to draw on when you need it most.

1) For the body–assume you've had a heart attack; now live accordingly. 

2) For the mind–assume the half-life of your profession is two years; now prepare accordingly.

3) For the heart -assume everything you say about another, they can overhear; now speak accordingly.

4) For the spirit–assume you have a one-on-one visit with your Creator every quarter; now live accordingly.

Stephen Covey (Source: The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness)
Watch here : http://youtu.be/_Yf3Sh-zwAQ
Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

Life Skills, have you had it?


kriteria pekerja dan pengusaha yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang memiliki integritas dan antusias. tanpa integritas, orang akan menjadi kuda liar yang tak bisa dikenalikan dan berpotensi merusak dan menipu. namun orang yang memiliki integritas tanpa antusias, maka tidak akan berkembang dan memperbesar kemanfaatan dirinya untuk orang lebih banyak. Jika masalah potensi cerdas, itu sudah dimiliki oleh manusia pada umumnya. 
by Ridho Hudayana(inspired by Dahlan Iskan)

Skillful and Smart Are not Enough
Hari ini orang yang hanya mengandalakan skill dan kepintaran akan merugi, karena mereka akan segera tergantikan dengan mesin-mesin yang lebih pintar dan lebih skilful dari mereka. Lihatlah perubahan disekitar kita yang begitu cepat dan dahsyat.Hampir semua kebutuhan kita bisa digantikan dengan tenaga mesin yang berteknologi tinggi. Mampu melayani hampir semua keutuhan manusia.

Sehingga banyak film box office yang bertemakan masa depan yang menampilkan kecanggihan robot yang melayani manusia.Sehingga diprediksikan masa depan manusia hanya sebagai operator saja, bahkan sekedar menjadi penikmat saja.

Maka manusia yang hanya mengandalkan skill dan kepintaran saja dalam bidangnya menjadi useless. Dan seperti yang kita lihat hari ini, manusia menjadi tidak perlu skillful dan terlalu pintar dalam bidangnya untuk menjadi sukses, cukup mereka memiliki  sedikit engetahuan untuk mengoperasikan tknologi dan life skill yang baik, maka mereka pun akan menjadi sukses.

Life Skill is Powerful
Dalam suatu wawancara Hermawan Kartajaya sebagai CEO MARKPLUS Inc. kepada seorang Dahlan Iskan sebagai menteri BUMN. Ada suatu yang mengesankan di akhir wawancara antara mereka berdua, yang saya unduh dari youtube sekitar 2 minggu yang lalu.Diakhir wawancara, pak Hermawan mengajukan pertanyaan ke pak dahlan, yang intinya menanyakan, pegawai BUMN yang ideal untuk menjadikan perusahaan dibawah BUMN menjadi perusahaan yang bersaing dalam marketingnya dengan perusahaan-perusahaan swasta/asing itu seperti apa?

Dengan cukup lugas pak dahlan menjawab yang intinya pegawai yang cocok untuk bekerja di BUMN itu adalah pegawai yang memiliki soft skill/life skill yaitu, Integritas dan antusias, karena kalau berdasarkan sekedar skill dan kepintaran dalam bidangnya, itu semua dimiliki oleh orang yang bergabung diperusahaan rata-rata, baik skill dan kepintaran itu bisa dilatih dan dikembangkan. Karena kalau pegawai BUMN tidak memiliki life skill, integritas dan antusias, maka BUMN dimana ia bekerja menjadi tidak akan berkembang dan mungkin akan bangkrut.

Namun jika pegawai BUMN hanya memiliki integritas saja, maka perusahaan tidak akan berkembang, dan jika pegawai itu hanya memiliki antusias saja maka ia akan dicurigai dikarenakan akan membuat kerugian dan penipuan terhadap perusahaan.

Maka untuk BUMN yang bersaing maka dibutuhkan pegawai yang memiliki life skill integritas dan antusias. Karena mereka bisa dipercaya dan lebih progressif dalam pengembangan perusahaan. Mereka yang diharapkan menjadikan BUMN menjadi bersaing di dalam dan diluar negeri.

Without Life Skill (is the Reason of) Re-Sign
 Suatu ketika ada penelitian disebuah peruahaan jasa asuransi yang memperkerjakan agen asuransi, kira-kira  100 agen yang bekerja ditahun pertama. Dan diakhir tahun pertama lebih dari  50% dari agen itu mengundurkan diri. Dan ini kerap kali terjadi diperusahaan ini.

Perusahaan tidak mau mengalami kerugian karena pengeluaran untuk biaya training agen asuransi baru membengkak. Maka perusahaan asuransi tersebut mengadakan peneitian terhadap agen asuransi yang masih bekerja dan yang mengundurkan diri.

Maka dari data yang diperoleh menunjukkan, mereka yang mengundurkan diri dikarenakan tidak tahan terhadap penolakkan calon konsumen asuransi, padahal mereka adalah orang yang memiliki latarbelakang akademis yang sanat memenuhi syarat dan emahami betul duna marketing. Namun rupanya mereka tidak antuias karena tidak tahan dengan penolakkan dari calon konsumen.

Lain halnya yang masih bertahan di perusahaan asuransi tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki latar belakang akademis yang pas-pasan dan pemahaman dunia marketing yang juga masih sangat dasar. Namun mereka tidak pernah mengeluh atas penolakkan dari calon konsumen asuransi. Karena bagi mereka penolakkan adalah evaluasi untuk lebih baik lagi dalam menawarkan jasa asuransi. Dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan konsumen dan mencapai target.

So.. How to Build the Life Skill?
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar dari tulisan ini adalah bagaimana membangun life skill ini? Jawabannya adalah dengan memperbanyak pengalaman gagal dan mencoba. Itu berarti jika anda ingin memunculkan dan belajar mengenai life skill ini maka anda memerlukan banyak latihan menghdapi penolakkan dan mau belajar.

Langkah pertama adalah anda harus bergabung dalam komunitas atau lembaga yang anda bisa mengerjakan proyek-proyek dari entitas/komunitas dimana anda bergabung, tentunya yang anda sukai. Langkah kedua, ketiga, dan selanjutnya adalah jangan perna menyerah dalam setiap proyek-proyek yang anda kerjakan. Kuncinya adalah Integritas dan Antusias!

By Ridho Hudayana
Kunjungi blog pribadi penulis di http://ridhopsi.blogspot.com/





Read more...
Posted by Aji Celestia | 0 comments

What is best practice?


A best practice is a technique or methodology that, through experience and research, has proven to reliably lead to a desired result. A commitment to using the best practices in any field is a commitment to using all the knowledge and technology at one's disposal to ensure success. The term is used frequently in the fields of health care, government administration, the education system, project management, hardware and software product development, and elsewhere.

In software development, a best practice is a well-defined method that contributes to a successful step in product development. Throughout the software industry, several best practices are widely followed. Some of the more commonly used are: an iterative development process, requirement management, quality control, and change control.

An iterative (meaning repetitive) development process, which progresses in incremental stages, helps to maintain a focus on manageable tasks and ensures that earlier stages are successful before the later stages are attempted. Requirement management addresses the problem of creeping requirements, which is a situation in which the client requests additional changes to the product that are beyond the scope of what was originally planned. To guard against this common phenomenon, requirement management employs strategies such as documentation of requirements, sign-offs, and methodologies such as the use case.

Quality control is a strategy that defines objective measures for assessing quality throughout the development process in terms of the product's functionality, reliability, and performance. Change control is a strategy that seeks to closely monitor changes throughout the iterative process to ensure that records are intact for changes that have been made and that unacceptable changes are not undertaken.

A best practice tends to spread throughout a field or industry after a success has been demonstrated. However, it is often noted that demonstrated best practices can be slow to spread, even within an organization. According to the American Productivity & Quality Center, the three main barriers to adoption of a best practice are a lack of knowledge about current best practices, a lack of motivation to make changes involved in their adoption, and a lack of knowledge and skills required to do so.

Posted by: Margaret Rouse
Source : http://searchsoftwarequality.techtarget.com/
Read more...