Posted by Aji Celestia | 0 comments

The 4 DX, karya monumental Sean Covey, Putra S. R. Covey


Stephen Covey memang telah tiada. Namun, sang putra, Sean Covey, tampaknya telah siap untuk terus mengibarkan nama Covey di jagat bisnis dengan tawaran konsep serta pendekatan praktis yang dibutuhkan kalangan korporasi. SWA berkesempatan mewawancarai Sean ketika meluncurkan buku The 4 Disciplines of Execution versi bahasa Indonesia, 12 Desember 2012. Berikut petikan wawancara dengan pria yang termasuk “New York Times best selling authors” ini.  

Bagaimana sejarah lahirnya konsep 4 Discipline of Executionatau 4DX? Berdasarkan survei Franklin Covey terhadap para CEO, ternyata tantangan nomor satu dalam menjalankan strategiadalah eksekusi.  
 
Apa yang kemudian dilakukan setelah tahu hasil survei itu? Kami mempelajari mengapa eksekusi gagal, apa yang membuat eksekusi berjalan dan berhasil.Dan, setelah lebih dari satu dekade, kami berhasil mengungkap “kode rahasia” kekuatan eksekusi yang kemudian menghasilkan 4DX. Jadi, 4DX merupakan formula menyelesaikan segala sesuatu di dalam perusahaan, khususnya mengenai aturan/ hukum dalam mengeksekusi. Konsep 4DX diperkenalkan sejak delapan tahun lalu, dan hingga kini kami masih terus memperbaikinya.

Apa sih empat hal dalam 4DX? Pertama, fokus. Ini hal yang mudah dan sederhana, tetapi tak ada perusahaan yang melakukannya. Kebanyakan perusahaan memiliki banyak target, 15 target misalnya. Atau, target selalu berubah. Hal pertama yang kami ajarkan adalah menetapkan hanya satu atau dua target dan membuatnya sangat jelas yang bisa dibuat formulanya. Kedua,act on the lead measures. Misalnya, jika ingin melakukan diet, lag measure-nya adalah kegemukan yang akan dikurangi dan lead measures-nya adalah pola makan dan olah raga. Dalam bisnis, kebanyakan perusahaan justru fokus pada lag measures. Ketiga, keep a compelling scoreboard. Setiap orang di perusahaan perlu tahu mengenai posisinya, apakah menang atau kalah dalam persaingan. Di Marriot, bahkan pelayan memiliki scoreboard sehingga mereka bisa mengetahui kinerja mereka, apakah sesuai dengan target atau belum. Keempat,create a cadence of accountability, misalnya melakukan pelaporan secara reguler atau rapat satu kali seminggu untuk mempertanggungjawabkan apa yang tengah dilakukan untuk mencapai targetnya.  

Apa kekuatan dan kelebihan 4DX dibandingkan konsep manajemen lainnya? Saya pikir tidak ada yang seperti 4DX di luar sana. Banyak buku membahas eksekusi, tetapi tidak ada yang seperti ini, ha-ha- ha... Kami pikir 4DX merupakan metode yang sudah terbukti untuk mengeksekusi. Salah satunya, Hotel Marriot.

Butuh berapa lama untuk mengimplementasikan 4DX? Tiga bulan hingga setahun untuk mendapatkan hasil maksimal.

Kapan perusahaan perlu menerapkan 4DX? Tidak ada keharusan mengenai kapan mengimplementasikan 4DX, apakah saat stagnan atau saat melejit. Idenya cukup sederhana:setiap organisasi pasti memiliki tujuan. Namun, permasalahan atau tantangannya adalah bagaimana mencapai targetnya secara konsisten.

Apa saja kesulitan saat menerapkan 4DX? Kata kedua dari judul buku ini : disiplin!  

Lalu, apa saja yang menyebabkan kegagalan? Banyak yang tidak fokus. Misalnya, seorang manajer yang menganggap dirinya kompeten dan ingin banyak melakukan sesuatu. Semua orang ingin melakukan banyak hal. Itu yang membuat orang sulit fokus. Lead measures juga hal yang sulit ditentukan. Mengenai scoreboard, terlalu banyak hal dalam scoreboard yang akan menyulitkan orang mengukur kinerja dalam hubungannya dengan mencapai target mereka. Penerapan 4DX sering hanya berhasil pada awalnya. Bagaimana menjaga agar momentum 4DX bisa terus dijaga? Mudah menjaganya. Kami melakukannya dengan menyertifikasi banyak manajer di dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat menjalankannya sendiri. Saya pikir ketika Anda mengetahui dan disertifikasi mengenai 4DX, Anda tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Jika sebelumnya Anda memiliki banyak target, setelah mengenal 4DX, Anda akan tahu target spesifik anda. Anda juga tidak akan kembali menggunakan scoreboard yang rumit.(*)

Denoan Rinaldi dan Sudarmadi
Sumber : Majalah SWA

0 comments: